Tapi sekarang aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, entah ia ke mana. Aku tak tau.
"Li itu ada tamu, ayo keluar kamar", kata Ayah.
Tiba-tiba saja Ayah menyadarkanku dari fantasi sesaat tentang laki-laki yang tak kukenal itu.
"Siapa Yah tamunya?", tanyaku.
"Temen Ayah, anaknya ganteng deh hehehe", ujarnya.
"Ih Ayah emangnya kalo ganteng terus aku bakal langsung suka gitu?", tanyaku sambil cemberut.
"Hahaha kan Ayah bercanda",
Kemudian aku mengikuti Ayah turun ke bawah, dan rasanya seperti tersambar petir. Aku mngenali wajah itu! Duduk di kursi roda. Ah aku tak percaya!!
"Pak Handoko kenalkan ini putri tunggal saya, namanya Lianel", Ayah mengenalkanku pada temannya itu.
Tapi aku hanya diam saja, tidak bergeming sedikit pun. Terpaku menatap laki-laki yang duduk di kursi roda itu.
Ia menatapku! Ia juga diam! Hanya diam!
"Lianel, salim dong sama Pak Handoko" kata Ayah.
Tapi aku tetap diam. Diam dan diam.
"Hai Lianel, kamu cantik ya. Terakhir saya ngeliat kamu, kamu masih kecil. Kelas berapa sekarang?",
akhirnya Pak Handoko muenyapaku.
Tapi entah kenapa aku hanya diam, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tetap saja hanya menetap laki-laki yang duduk di kursi roda itu, kami saling tatap.
"Namamu siapa?", tiba-tiba aku bertanya kepada laki-laki itu. Aku juga tidak sadar kenapa bisa tiba-tiba bertanya.
"Raymond, panggil saja Ray. Kamu? Sepertinya aku mengenalmu", ia menyebutkan namanya.
"Ya aku juga". Kemudian ia diam lagi. Diam dan terus saja diam.
"Kalian saling kenal?", Tanya Pak Handoko.
"Oh nggak kok Om, oh iya saya Lianel. Maaf Om atas kelancangan saya", kataku.
"Iya tidak apa apa kok Lianel", ujar Pak Handoko.
Aku pergi. Berlari ke halaman belakang. Aku tidak mau melihatnya. Aku mau sendiri. Entah kenapa hatiku sakit, sakit sekali saat melihatnya lagi. Tatapannya seakan akan mengintimidasi perasaan yang selama ini aku pendam. Apa aku menyayanginya? Aku tak tau! Yang ku tau hanyalah aku tak mau melihatnya!
Kenapa selama ini ia menghilang? Kenapa kami tak pernah bertemu dengannya ditiap pagi lagi? Kenapa sekarang ia duduk di kursi roda? AH!! Miris.
"Lianel.......", ada sebuah suara yang memanggilku. Menyadarkanku dari lamunan. Aku berbalik dan ia........... Ray. Di hadapanku, duduk di kursi rodanya.
"Ray? Ngapain kamu disini?", tanyaku.
Tapi ia tidak menjawab. Lagi-lagi ia diam!
"Ray?",
Ia tetap diam, menatapku, tidak bergeming.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi", akhirnya Ray menjawab tapi bukan yang aku tanya!
Gantian, aku yang diam. Aku tidak mengerti maksud pertanyaannya. Siapa Ray sebenarnya?
"Mungkin kamu bingung kenapa sekarang aku duduk di kursi roda. Kau mau tau?", Ray bertanya.
Aku tidak bisa membuka mulutku, aku diam saja. Aku hanya mengangguk.
"Terakhir kita ketemu di jalan itu. Saat pulang sekolah, kamu tersenyum. Aku memutuskan untuk mengikutimu. Aku mau tau siapa kamu, namamu siapa, rumahmu dimana. Saat kamu berbelok masuk ke kompleks perumahan, aku tertinggal. Aku langsung ngebut dan tiba-tiba ada sebuah truk dari arah yang berlawanan, aku tertabrak. Aku tidak tau bagaimana kejadian berikutnya, yang kutau aku terbangun di rumah sakit, ada orang tuaku dan adikku. Orang tuaku senang dan menangis melihat aku siuman. Kata mereka aku sudah koma selama 5 hari. Mereka memberi tauku kalau kakiku lumpuh, aku tak peduli dengan perkataan mereka. Yang pertama kali terucap dariku 'Pah, apa papah punya kenalan atau teman yang punya anak perempuan di Kompleks Perumahan Mutiara Hati?' Orang tuaku bingung, tidak mengerti mengapa aku bertanya begitu. Papah terus bertanya kenapa aku bertanya begitu, tapi aku tetap memaksa papah menjawab. Papah bilang 'ya ada, namanya Pak Ilyas. Dia punya seorang anak perempuan, tunggal', setalah itu aku bilang ke papah kalau aku mau bertemu dengan teman papah itu. Papah berjanji kalau aku sudah pulih, dan boleh keluar rumah sakit. Ternyata itu lama! 3 bulan di rumah sakit, 6 bulan terapi rutin. Sete;ah itu baru aku boleh keluar lagi. 9 bulan aku menunggu untuk bertemu denganmu. Semakin hari aku semakin ingin melihatmu. Kangen? Mungkin lebih tepatnya seperti itu", Ray menceritakan semuanya.
"Ray......" aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Kok kamu nangis? Hahaha jangan nangis dong, kamu lebih cantik kalau senyum", kata Ray.
"Aku kangen kamu, tapi aku ga kenal kamu. Konyol ya?", tanyaku.
"Gak konyol kok. Aku juga begitu", jawab Ray dengan senyum termanisnya.
Semua berlangsung begitu cepat. Hanya dengan cara begitu kami kenal, miris.
"Lianel....."
"Kenapa Ray?"
"Eu te amo"
------------------------------***-------------------------------