Selasa, 29 November 2011

Me.....

I'm chosen for alone than here between them.
I would to be myself, nobody can forbid me.
I like to did what I'd love to, nobody can overprotect of me.
It's me.
Don't like me? Just created some distance of me.
Don't like me? Talk front of me, don't talk in behind about me.
This is my relationship, who you?
You have no part on this story.

Kamis, 17 November 2011

Bapak Pemimpin.....

Bapak Pemimpin, tidakkah engkau melihat keadaan Indonesia yang kian memprihatinkan? Di mana hati nurani kalian?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau menyiapkan jet seharga Rp 4 M hanya untuk menjemput seorang koruptor dari Columbia sementara berat rasanya mengeluarkan dana Rp 4 M untuk pembangunan di sektor pendidikan? Bagaimana rakyatmu bisa maju?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau menciptakan keegoisan hukum? Kenapa seorang nenek mencuri 3 butir buah kakao dijatuhi hukuman 3 bulan penjara sedangkan pemuda yang berstatus sebagai “pencuri uang Negara” dibiarkan jalan-jalan ke luar negeri? Ke mana ketegasan hukum di Negara ini?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau membiarkan para koruptor membeli hukum Negara? Di mana ketegasanmu? Di mana wibawamu? Apa daya kami rakyatmu yang melakukan kesalahan kecil tapi dihukum sedemikian beratnya? Apakah menurut engkau kini korupsi merupakan suatu budaya?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau bertindak layaknya diktator? Bukankah Negara ini berpegang teguh pada Demokrasi Pancasila?

Bapak Pemimpin, kami tahu mengurus Negara merupakan hal yang tak mudah, tapi bisakah engkau tak mengumbar janji yang tidak dapat engkau tepati?

Bapak Pemimpin, harus berapa korban jiwa lagikah yang berjatuhan hanya untuk menyampaikan aspirasi rakyat kepadamu?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau membiarkan rakyatmu yang menjadi “pekerja kasar” di Negara tetangga disiksa? Kenapa engkau tidak melakukan negosiasi hukum? Seperti itukah bentuk rasa cintamu terhadap Negara dan rakyatmu?

Bapak Pemimpin, kenapa engkau mengatakan “aku adalah Negara dan Negara adalah aku” jika engkau sendiri belum bisa menjaga negaramu sendiri?

Bapak Pemimpin, seberapa berartinyakah lagu wajib nasional yang ditulis dengan “darah” dan “air mata” di Negara kita ini bagimu? Mengapa yang dinyanyikan malah lagu biasa saja dalam HUT RI? Ke mana jiwa nasionalismemu?

Bapak Pemimpin, sadarkah engkau dinilai gagal oleh rakyatmu sendiri? Tidak adakah keinginan untuk memperbaikinya?

Kami hanya rakyat kecil, tidak mampu membeli hukum.

Kami hanya rakyat biasa, kami tidak butuh gelar pendidikan di belakang namamu, kami tidak butuh janji-janji kosongmu, kami hanya butuh KEADILAN!!!